This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 13 Februari 2012

Makin Sehat dengan Jatuh Cinta

"Berada dalam hubungan yang romantis memungkinkan tubuh melepas hormon bahagia."

 

kita sering sering dengar kata cinta ....nahh ternyata jatuh cinta itu juga menyehatkan lohh ..Jatuh cinta kata kebanyakan orang berjuta rasanya. Bahkan sebuah penelitian mengungkap manfaat jatuh cinta dari segi kesehatan.

Seperti dikutip laman Idiva, emosi yang murni dan tulus bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Namun perlu diingat, manfaatnya hanya bisa dirasakan jika seseorang berada dalam suatu hubungan yang stabil dan nyaman.

Berikut manfaat kesehatan yang bisa Anda rasakan saat sedang jatuh cinta:

Lebih bahagia

"Berada dalam hubungan yang romantis memungkinkan tubuh Anda  melepaskan lebih banyak hormon bahagia. Hormon ini menimbulkan perasaan lebih bahagia. Anda juga mampu meredam amarah."

"Anda berada dalam suasana hati yang besar dan seluruh orang yang berada di dekat Anda akan merasakan aura positif," kata psikolog asal Mumbai, H'vovi Bhagwagar.

Meningkatkan Kekebalan
Jatuh cinta bisa meningkatkan kekebalan tubuh Anda. "Anda lebih tenang dan selalu berpikir positif. Hal ini mengurangi risiko terserang pilek dan batuk," kata H'vovi. Dan sebaliknya, merasa depresi atau sedih membuat Anda rentan terhadap serangan dari virus pilek dan flu. Hal ini juga berisiko menyebabkan masalah gangguan perut.

Mengurangi  sakit dan nyeri
"Berada dalam hubungan yang stabil, memberikan Anda kenyamanan. Perasaan ini membantu Anda mengatasi rasa sakit," kata dokter Dhwanika Kapadia. Saat sedang jatuh cinta, cenderung pasangan Anda selalu memberi motivasi untuk membantu Anda bisa keluar dari sakit yang Anda rasakan.

Meningkatkan konsentrasi

Pasangan yang penuh kasih dan selalu menunjukkan kepeduliannya memungkinkan Anda lebih bersemangat mengerjakan tugas-tugas saat berada di tempat kerja.

"Pikiran Anda tidak sibuk mengkhawatirkan keluarga atau bagaimana pasangan Anda merasa tentang Anda," kata H'vovi. Hal ini memungkinkan Anda berkonsentrasi pada pekerjaan Anda dan dengan demikian meningkatkan kinerja Anda. "Ketika Anda puas, Anda merasa lebih baik, lebih kreatif juga," kata H'vovi.

Siklus haid lebih teratur

Siklus menstruasi wanita tergantung pada berbagai hal, seperti kesehatan dan gizi. Stres merupakan faktor penting juga. "Wanita dalam hubungan jangka panjang yang stabil cenderung tidak merasa tertekan. Oleh karena itu memiliki perasaan jatuh cinta juga bisa mempengaruhi gejala PMS wanita," kata H'vovi.

Terhindar dari stres

Wanita yang sudah menikah atau mereka yang telah memiliki kekasih, kemungkinan merasa cemas atau memiliki masalah sepele sangat sedikit. Mereka tahu bahwa mereka memiliki pasangan yang saling memahami satu sama lain dan merasa saling memiliki.

"Rasa memiliki menjadi sistem pendukung, membantu Anda menangani masalah dengan mudah," kata Dhwanika. Hal ini membuat stres berkurang dan risiko tekanan darah tinggi juga rendah, termasuk ketegangan dan migren.

Sumber ;VIVA NEWS

5 Zat Aditif yang Sebaiknya Dihindari

Penggunaan zat aditif sintesis secara berlebihan bisa berakibat buruk bagi kesehatan.

 

Tanpa kita sadari, asupan makanan yang masuk ke tubuh seringkali mengandung zat aditif. Zat tersebut kadang sengaja ditambahkan untuk memperbaiki bentuk makanan atau minuman agar lebih awet. Ada dua jenis zat aditif yang biasa digunakan yaitu zat aditif alami dan buatan.

Penggunaan zat aditif sintesis secara berlebihan bisa berakibat buruk bagi kesehatan tubuh. Menurut laman Todaysparent, ada lima zat aditif yang sebaiknya dihindari.

1. Pewarna Buatan

Siapa yang tak tertarik dengan aneka makanan yang berwarna-warni? Memang ada juga pewarna alami yang berasal dari kunyit, wortel ataupun daun pandan, namun pewarna buatan seringkali dipilih untuk menggantikan pewarna alami. Pewarna buatan seringkali ditemukan pada minuman ringan, permen dan es krim. Sebuah studi tahun 2007 yang kemudian diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet menemukan sebuah hubungan antara pewarna buatan dan tingkat hiperaktif pada anak.

2. Natrium Benzoat
Jenis pengawet yang satu ini banyak ditemukan pada minuman ringan atau acar. Pengawet memang kerap dipilih karena makanan atau minuman bisa bertahan lama, tentunya hal ini bisa menguntungkan produsen. Namun tahukah Anda bahwa zat ini juga bisa menyebabkan hiperaktif pada anak? Penggunaan secara berlebihan juga tak baik bagi kesehatan.

3. Pemanis Buatan
Aspartam dan sakarin merupakan jenis pemanis buatan. Banyak ditemukan pada soda diet kalori, permen bebas gula ataupun pada jajanan anak-anak. Pemanis buatan dapat menurunkan risiko diabetes, namun siklamat merupakan zat yang bersifat karsinogen.

4. Nitrit
Nitrit banyak ditemukan dalam daging olahan. Sebuah tinjauan di tahun 2007 menyebutkan bahwa Nitrit erat kaitannya dengan kanker. Produk daging olahan disimpulkan sangat meningkatkan risiko kanker usus dan harus dihindari.

5. MSG (Monosodium Glutamat)
Monosodium Glutamat sering digunakan sebagai penguat rasa pada makanan. Zat ini juga dipakai untuk untuk melezatkan makanan. MSG juga biasa disebut vetsin. Beberapa restoran Asia kerap menambahkan MSG dalam masakannya. MSG juga dapat menyebabkan sakit kepala, mual dan sulit bernafas. Ada baiknya Anda menghindari zat yang satu ini.

 

Cegah Penyakit dengan memilih air minum

80 persen penduduk Indonesia mengonsumsi air yang tak layak bagi kesehatan.

 

Mengonsumsi air untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuh sangat penting dilakukan. Selain bisa mencegah dehidrasi, konsumsi air untuk tubuh sangat diperlukan agar organ-organ penting bisa berfungsi dengan baik.

Dalam kondisi kekurangan cairan, tubuh bisa mengalami banyak gangguan fungsi organ. Untuk itu, memenuhi kebutuhan air dalam tubuh perlu dilakukan.

Namun, tak hanya sekedar memenuhi kebutuhan air untuk tubuh. Masyarakat juga perlu memperhatikan kebersihan dari air yang dikonsumsi. Apalagi, kini, di Indonesia, banyak masyarakat masih mengalami kesulitan mendapatkan air bersih yang layak untuk dikonsumsi.

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Prijo Sidipratomo, SpRad (K) mengatakan, bahwa sebuah penelitian menemukan, 80 persen penduduk Indonesia mengonsumsi air yang tak layak bagi kesehatan. Dan, badan kesehatan dunia, WHO mencatat bahwa, 3800 anak meninggal setiap harinya karena kekurangan pasokan air bersih.Kementrian kesehatan RI juga mencatat, setiap tahun terdapat 1,5 juta anak meninggal akibat diare, di mana dari 5.798 kasus diare terdapat 94 orang meninggal.

"Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk mewaspadai penyakit yang ditularkan  langsung melalui air minum (water borne disease), yaitu, kondisi pada saat air minum yang mengandung kuman patogen terminum oleh manusia, maka dapat terjadi penyakit," katanya saat acara Seminar Nasional Pangan dan Gizi 2012 di Balai Kartini, Jakarta, Kamis, 19 Januari 2012.

Ia juga menyebutkan, beragam penyakit bisa terjadi akibat konsumsi air minum yang tak layak, seperti, kolera, penyakit tipus, penyakit hepatitis, disentri dan gastroenteritis. Untuk itu, masyrakat perlu tahu, bagaimana kualitas air yang layak untuk dikonsumsi.

"Ciri-ciri air yang aman dikonsumsi adalah tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, tidak mengandung zat berbahaya, dan tidak mengandung cemaran pestisida, jamur dan bahan lain yang membahayakan tubuh," katanya. (eh)

 

Kopi juga mempengaruhi hormon wanita

Perubahan hormon terkait dengan gangguan kesehatan seperti endometriosis, kanker payudara.

 

Secangkir kopi di awal hari yang sibuk atau saat sedang bersantai di sore hari memberi suntikan semangat bagi penikmatnya. Di balik sensasinya, minuman ini ternyata memengaruhi hormon wanita.

Naik-turunnya hormon pada wanita usia subur juga sangat tergantung pada etnis wanita bersangkutan. Para ilmuwan menemukan wanita Asia yang mengonsumsi 200 miligram (mg) kafein atau dua cangkir kopi sehari, memiliki level estrogen yang setara dengan tingkat konsumsi kafein dua wanita Amerika.

Namun, wanita berkulit putih yang mengonsumsi 200 mg kafein memiliki tingkat estrogen sedikit lebih rendah daripada mereka minum kopi kurang dua cangkir. Sementara itu, wanita berkulit gelap hanya sedikit mengalami perubahan setelah minum kopi.

Tim dari University of Utah, mempelajari lebih dari 250 wanita antara tahun 2005 dan 2007. Mereka menemukan bahwa sumber kafein bisa mengubah kadar hormon pada tubuh wanita. Wanita yang mengasup kafein dari minuman bersoda atau teh hijau memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi di antara wanita beretnis sama.

Meskipun begitu, perubahan ini tampaknya tidak memengaruhi ovulasi di antara wanita. Sebagian besar peserta dalam penelitian memiliki siklus menstruasi antara satu hingga tiga pekan. Para penulis mencatat informasi ini lebih tepat menggambarkan hubungan antara kafein dan hormon daripada studi sebelumnya.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kafein di kalangan wanita usia subur berefek pada kadar estrogen," kata Dr Enrique Schisterman, dari Institut Kesehatan Nasional, tempat studi dilakukan.

Dia menyebut, "Dalam jangka pendek, variasi kadar estrogen di antara kelompok yang berbeda tidak muncul."

Namun, Dr Schisterman menambahkan, ada variasi level estrogen yang terkait dengan berbagai gangguan pada wanita seperti endometriosis, osteoporosis, endometrium, kanker payudara, dan kanker ovarium dalam jangka panjang.

"Konsumsi kafein dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi kadar estrogen. Masuk akal jika mengamati konsumsi kafein untuk memahami gangguan ini," ujarnya.

Penelitian ini dipublikasikan secara online dalam American Journal of Clinical Nutrition. (art)

Sumber;VIVA NEWS  

Roma